Translate
Arabic Korean Japanese Chinese Simplified Russian Portuguese English French German Spain Italian Dutch

Rabu, 02 Desember 2009

Persiapan Jumbara SMK1 Kedungwuni


Untuk mencapaiesuksesan dijumbara cabang Pekalongan besok, dewan wira SMK 1 Kedungwuni mempersipkan segala sesuatunya dengan baik.

Adapun persiapannya meliputi latihan Traveling Kepalang merahan, paduan suara, jurnalistik, Pentas seni, Siaga bencana, dan lain-lain.

Dalam persiapan ini melibatkan seluruh dewan dan tidak lupa mengundang pelatih dari PMI cabang.

Semoga dengan semangat dan kemampuan kami,kami dapat mendapatkan hasil yang baik.

Mohon do'a restunya !!

Senin, 02 November 2009

Pertemuan Internasional Bahas Perkembangan Program Kesehatan dan Pertolongan Pertama Berbasis Masyarakat

Program CBHFA atau Aksi Kesehatan dan Pertolongan Pertama Berbasis Masyarakat (KPPBM) adalah salah satu program di bidang kesehatan yang dilakukan oleh PMI. Program CBHFA telah berjalan sejak tahun 1999 dan selanjutnya pada tahun 2005 diadakan revitalisasi untuk program ini sesuai komitmen dari Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC).

Terkait dengan perkembangan program ini, PMI menggelar pertemuan internasional bertajuk “CBHFA Global Lesson Learn Workshop” di Park Lane Hotel Jakarta sejak 25- 27 Oktober 2009. Pertemuan ini membahas seputar program CBHFA dan perkembangannya di Indonesia dan di sejumlah negara lainnya. Dari pertemuan ini diharapkan adanya sebuah rekomendasi untuk pelaksanaan program di masa yang akan datang. Pada kesempatan yang sama, PMI dan IFRC juga meluncurkan secara resmi program serta paket modul CBHFA.

Acara dihadiri oleh perwakilan palang merah dari 22 negara (Indonesia, Finlandia, Swedia, Norwegia, Amerika Serikat, Austria, Inggris, Australia, Kamerun, Cook Islands, India, Kenya, Myanmar, Namibia, Nepal, Pakistan, Samoa, Sri Lanka, Thailand, Timor Leste, Sudan, dan Zimbabwe) serta IFRC.

Sekilas tentang Program CBHFA
Sejauh ini PMI telah melaksanakan program CBHFA di masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia. Program ini difokuskan untuk mendukung relawan dalam memotivasi masyarakat dalam meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat. Caranya adalah dengan mendorong kemampuan mereka dalam memberikan pertolongan pertama, meningkatkan respon dan penanggulangan bencana serta promosi kesehatan dasar melalui kegiatan penyuluhan.

“Melalui program CBHFA, masyarakat diharapkan bisa berpartisipasi aktif dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan. Lewat program ini juga masyarakat disiapkan untuk menghadapi tanggap darurat bencana,” ujar Kepala Divisi Pelayanan Sosial dan Kesehatan Masyarakat Markas Pusat PMI, dr. Lita Sarana di Jakarta (27/10).

Terkait dengan berjalannya program CBHFA di Indonesia, Wakil Ketua PMI Bidang Pelayanan Sosial dan Kesehatan Masyarakat, Prof. Dr. Amal Sjaaf menyatakan, “PMI sebagai perhimpunan palang merah di Indonesia telah dipercaya untuk mengujicobakan program ini di kawasan Asia Pasifik. Kami telah memulai program percontohan ini sejak 2007 di Propinsi NAD.”

Dalam pelaksanaannya, program CBHFA telah berkolaborasi dan berintegrasi dengan program pemerintah setempat, seperti Desa Siaga, Sanitasi Total Berbasis Masyarakat, posyandu, dan program-program lainnya. Berbagai proyek percontohan ini telah dilaksanakan di 4 Kabupaten di Propinsi NAD (Sabang, Bireun, Banda Aceh dan Aceh Jaya) dengan 99 desa didukung oleh 92 fasilitator tingkat kabupaten dan 1.883 Relawan Kesehatan Desa (RKD).

Melalui program CBHFA yang memakai pendekatan berbasis masyarakat, tentunya masyarakat diharapkan dapat mandiri dalam meningkatkan kesehatan dan kehidupan secara berkelanjutan. Program ini juga dilengkapi dengan petunjuk pelaksanaan, panduan fasilitator, panduan RKD, perangkat promosi kesehatan, dan media lain yang mendukung seperti, lembar balik, kalender kesehatan, dan jurnal relawan untuk memudahkan program berjalan.*

Jumat, 30 Oktober 2009

Pengamat: Kabinet SBY Didominasi Orang Dekat

17/10/2009 22:27
Liputan6.com, Jakarta: Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Ary Dwipyana menilai susunan kabinet presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) cenderung orang-orang di sekitar SBY. "Orang-orang yang telah dipanggil SBY untuk masuk dalam kabinetnya cenderung "All The SBY Man" atau orang-orang di sekitar SBY, karena pertimbangan untuk rekrutmen kandidat menteri lebih didasarkan pada kedekatan secara politis dan unsur dari tim sukses," katanya di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut Ary sebagaimana dikutip ANTARA, dari unsur politis tampak sekali mereka yang dipanggil banyak berasal dari unsur koalisi partai politik (parpol) pendukung SBY. "Itu sudah tampak dari beberapa nama yang dipanggil, serta dari unsur tim sukses yakni figur-figur yang selama ini berjuang bersama SBY dalam pemilu presiden," katanya.

Ary berpendapat kenyataan tersebut perlu dikritisi, karena kelihatan sekali SBY lebih memperhatikan representasi politik dengan terakomodasinya sejumlah figur dari parpol dan tim sukses. Ia mencontohkan dari parpol koalisi dapat dilihat munculnya nama Agung Laksono yang merupakan bukti SBY mengakomodasi Partai Golkar.

"Meskipun selama lima tahun terakhir Agung Laksono dikenal sebagai pimpinan DPR, namun dalam kompetensi dan hal tertentu, masih belum terlihat hasil yang menonjol yang telah dilakukan Agung Laksono. Ini menunjukkan faktor representasi parpol lebih kuat dari kompetensi," katanya.

Sedangkan dari tim sukses SBY, baru beberapa nama yang muncul seperti Marsekal (Purn) Djoko Suyanto, Jenderal Polisi (Purn) Sutanto. Kedua nama ini sebelumnya telah memiliki pengalaman dan pernah menduduki posisi penting dalam pemerintahan.

"Dari tim sukses yang belum teruji kompetensinya adalah Gamawan Fauzi yang saat deklarasi SBY bertugas membacakan naskah deklarasi. Pilihan terhadap Gubernur Sumatra Barat ini juga lebih bernuansa politis dan kedekatan saja," katanya.

Meskipun, menurut dia, selama ini Gamawan di Solok dikenal sebagai sosok yang bersih. Namun, dari sisi kompetensi masih belum ada yang menonjol. Ary mengatakan memang dalam kabinet ini ada regenerasi, tetapi bukan dalam arti regenerasi yang sesungguhnya untuk menciptakan terobosan inovasi serta kreativitas pembantu presiden.

Kalau dilihat yang terjadi sekarang, menurut dia kecenderungan SBY tidak mengambil orang di luar kelompoknya, dan tidak pernah mempertimbangkan orang di luar parpol dan tim sukses atau orang yang dikenal tidak memiliki kepentingan politik, namun memiliki kompetensi yang tinggi. Ia mengatakan dengan perkiraan kabinet seperti ini, artinya lima tahun ke depan hanya akan melihat kabinet loyal yang sedikit memunculkan manuver serta ide segar.(ARV)